Kasus Penyiraman Air Keras Novel: Saksi Dengar Jeritan Novel Minta Tolong

Saksi dalam sidang penyiraman air keras terhadap penyidik KPK novel Baswedan, Nursalim, bersaksi bahwa dirinya mendengar teriakan ketika jemaah Masjid Al Ihsan melakukan wirid selesai melaksanakan salat subuh. 

Nursalim Dengar Teriakan Minta Tolong

Nursalim sendiri adalah Imam salat subuh di Masjid Al Ihsan,  Jakarta, kata-kata saat terjadi peristiwa penyiraman air keras pada novel Baswedan tepatnya tanggal 11 April 2017 lalu. “ Nggak tahu teriakan siapa. teriakan sebagian minta tolong, jerit-jerit,” ungkapnya saat bersaksi di sidang penyiraman air keras yang mana disiarkan secara langsung lewat kanal YouTube Pengadilan Negeri Jakarta Utara hari Rabu (6/5). 

Dirinya juga menuturkan bahwa saat itu salat subuh dipenuhi jamaah hampir 2 shaf atau deret  salat, termasuk Novel Baswedan juga.  setelah melaksanakan salat, Nursalim berkata bahwa jemaah pada melakukan wirid. “ kurang lebih 7 atau 8 menit usai Pak Novel keluar (teriakan berasal dari) sebelah timur dari Jalan Deposito. Teriakannya dari samping Masjid,” imbuhnya dilansir dari CNN Indonesia.

Nursalim juga mengatakan bahwa tari akan terdengar semakin keras saat wirid dihentikan. dan berdasarkan kejadian tersebut Nursalim kemudian bersama dengan jamaah yang lainnya langsung keluar masjid. Di tempat wudhu tepatnya di depan halaman  masjid, dirinya menyaksikan Novel sedang mengguyur bagian wajahnya sembari meringis kesakitan. Dan ketika itulah menurutnya Novel sudah mengenakan kaos oblong, bukan lagi gamis yang dipakai nya ketika melaksanakan salat subuh. 

“Pak novel merintih kesakitan kadang-kadang membaca tasbih kayak Allahuakbar,” ungkapnya lagi. 

Kemudian saat itu Nursalim mengaku dirinya melihat mata Novel terluka dan memar. Tidak lama setelah itu tuturnya warga melakukan sterilisasi tempat dan memutuskan untuk membawa novel ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara. akan tetapi dirinya tidak ikut dalam proses evakuasi tersebut.  sebelumnya ada sejumlah pihak yang meragukan tingkat keparahan luka yang diderita oleh novel Baswedan.

Tingkat Keparahan Luka Novel Baswedan Diragukan Sejumlah Pihak

Misalnya saja kader PDIP Dewi Tanjung menyebut bahwa kasus novel ini hanyalah rekayasa saja dan menyebutnya memakai lensa kontak.  dalam perkara ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU), mendakwa dua orang pelaku penyiraman air keras terhadap novel Baswedan yaitu Ronnyi Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette. JPU mendakwahi mereka berdua atas tuduhan penganiayaan berat dan terencana. dan berupa berupaya menyerang asam (H2SO4) pada wajah Novel.  

Perbuatan kedua terdakwa tersebut membuat novel mengalami luka berat sampai mengalami hambatan dan juga pekerjaanya  karena dirinya sudah tidak bisa lagi melihat seperti dulu layaknya matanya saat masih normal. Hal tersebut terjadi karena adanya kerusakan pada Selaput bening (kornea) mata kanan dan juga kirinya. Luka togel online tersebut pasalnya berpotensi menyebabkan kebutaan ataupun hilangnya panca indra penglihatan.

Atas perbuatannya tersebut Rahmat Kadir Mahulette dan juga Roni Bugis  didakwa melanggar pasal 355 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1)  ke-1 KUHP dan juga Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Serta Pasal 351 ayat (2)  KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Tidak hanya nursalim saja yang bersaksi dalam sidang yang digelar secara daring tersebut Namun ada tetangga novel Baswedan lainnya yang menjadi saksi dalam persidangan di antaranya adalah Iman Sukirman, Eko,  dan juga Haryono.  akan tetapi menurut Jaksa  Fredik Adhar Syarippudin cuma ada dua saksi saja yang dikonfirmasi hadir dalam persidangan tersebut.